KATA PENGANTAR
Pertama-tama kami ingin
mengucapkan puji dan sykur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah memberkati
kami sehingga karya tulis ini dapat diselesaikan. Kami juga ingin mengucapkan
terima kasih bagi seluruh pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan karya
tulis ini dan berbagai sumber yang telah kami pakai sebagai data dan fakta pada
karya tulis ini.
Kami mengakui bahwa kami adalah
manusia yang mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal. Oleh karena itu tidak
ada hal yang dapat diselesaikan dengan sangat sempurna. Begitu pula dengan
karya tulis ini yang telah kami selesaikan. Tidak semua hal dapat kami
deskripsikan dengan sempurna dalam karya tulis ini. Kami melakukannya
semaksimal mungkin dengan kemampuan yang kami miliki. Di mana kami juga memiliki
keterbatasan kemampuan.
Maka dari itu seperti yang telah
dijelaskan bahwa kami memiliki keterbatasan dan juga kekurangan, kami bersedia
menerima kritik dan saran dari pembaca yang budiman. Kami akan menerima semua
kritik dan saran tersebut sebagai batu loncatan yang dapat memperbaiki karya
tulis kami di masa datang. Sehingga semoga karya tulis berikutnya dan karya
tulis lain dapat diselesaikan dengan hasil yang lebih baik.
Dengan menyelesaikan karya tulis
ini kami mengharapkan banyak manfaat yang dapat dipetik dan diambil dari karya
ini. Semoga dengan adanya karya tulis ini dapat mengurangi bahkan menghilangkan
penggunaan boraks dan formalin sebagai pengawet pada makanan. Dengan begitu
maka kesehatan akan lebih terjamin dan tidak ada lagi muncul berbagai penyakit
baru yang diakibatkan penggunaan bahan-bahan terlarang sebagai bahan baku
makanan. Kami juga mengharapkan kinerja yang lebih baik dan tegas serta efektif
dari pihak pengawas makanan yang merupakan bagian dari kepemerintahan, sehingga
makanan yang dihasilkan dari Indonesia dapat lebih terjamin dan sehat.
Penulis
1
Daftar Isi
Table of Contents
|
BORAKS DAN FORMALIN PADA MAKANAN
BAB I
PENDAHULUAN
Pada bab I ini
akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah, pembatasan masalah, perumusan
masalah, tujuan penulisan, metode penelitian, hipotesa dan manfaat.
Latar Belakang Masalah
Sekarang ini
banyak sekali bahan kimia dan berbagai campuran-campuran lain dibuat dan
diciptakan untuk membuat pekerjaan manusia dalam membuat makanan lebih efektif
dan efisien. Tetapi di samping untuk makanan dibuat juga bahan kimia untuk
pembuatan kebutuhan lain. Di mana bahan kimia tersebut tidak boleh dipergunakan
dalam pembuatan makanan dan dapat berakibat fatal.
Hal ini sangat
penting dan juga memprihatinkan. Fenomena ini merupakan salah satu masalah dan
kebobrokan bangsa yang harus diperbaiki. Janganlah sampai membiarkan hal ini
terus berlarut dan akhirnya akibat menumpuk di masa depan. Oleh karena itu,
kami berusaha merangkum sedemikian rupa dan mencoba membedah apa saja yang
seharusnya dilakukan dan mengapa hal ini menjadi hal yang sangat penting.
Perumusan Masalah
1 Apa faktor yang mendorong
pihak-pihak tertentu untuk menggunakan boraks atau formalin pada pangan yang
diproduksinya?
2 Jenis pangan apa saja yang
menjadi sasaran penggunaan boraks atau formalin pada proses pembuatannya?
3 Bagaimana mengetahui suatu
pangan dibuat dengan bahan pengawet dari boraks atau formalin?
4 Apa akibat dari penggunaan
boraks atau formalin pada produk pangan?
5 Bagaimana penanganan penggunaan
boraks dan formalin pada produk pangan ini supaya dapat dibasmi secara tuntas?
Tujuan Penulisan
Mengetahui pengertian boraks dan
formalin.
Mengetahui jenis-jenis pangan
yang menjadi sasaran penggunaan boraks dan formalin pada proses pembuatannya.
3
Mengetahui dampak negatif dari
penggunaan boraks dan formalin pada produk pangan.
Mengetahui peranan pemerintah
dalam memberantas penggunaan formalin dan boraks pada makanan.
Metode Penulisan
Pada penulisan
karya tulis ini kami menggunakan satu metode, yaitu dengan angket. Di mana
angket akan kami sebarkan dengan jumlah 40 lembar. Di mana angket itu berisi
pertanyaan-pertanyaan mengenai boraks dan formalin pada makanan mengacu pada
tujuan yang telah ada.
Manfaat
Dapat
mengetahui cirri-ciri makanan dengan bahan baku boraks atau formalin sebagai
pengawet sehingga dapat menghindarinya.
Dapat menghindari secara langsung
penggunaan boraks dan formalik pada produk pangan.
Dapat menambah wawasan dengan
mengetahui dampak yang diakibatkan dari penggunaan boraks dan formalin pada
produk pangan.
Dapat membantu pencegahan dan
pemberantasan penggunaan boraks dan formalin dengan berbagai solusi yang telah
dipikirkan.
|
BAB II
PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan
mengenai apa itu boraks dan formalin, dampak penggunaan boraks dan formalin
pada makanan dan jenis-jenis makanan yang mengandung boraks dan formalin yang
kesemuanya itu dilengkapi dengan hasil angket sebelumnya.
Pengetahuan akan Boraks dan Formalin
Menurut hasil
angket kami, didapatkan bahwa yang mengetahui secara pasti apa itu boraks dan
formalin adalah 29 orang dan yang tidak mengetahui begitu pasti apa itu boraks
dan formalin adalah 11 orang, dari total 40 angket yang dibagikan.
Hal itu menunjukkan bahwa
responden yang mengetahui secara persis apa itu boraks dan formalin lebih
banyak daripada yang tidak mengetahui secara pasti. Jika dimasukkan dalam
persen maka 72,5 % responden menyatakan mengetahui boraks dan formalin,
sedangkan 27,5 % lainnya tidak begitu mengetahui tentang boraks dan formalin.
Hasil ini menunjukkan bahwa
penyuluhan dan pengetahuan akan boraks dan formalin harus lebih sering
disosialisasikan, agar diharapkan kita semua mengetahui secara pasti apa itu
boraks dan formalin, sehingga dapat menggunakannya secara benar, sesuai dengan
fungsinya. Maka diharapkan juga dengan pengetahuan akan boraks dan formalin
tersebut, kasus penggunaan boraks dan formalin pada bahan makanan dapat
dikurangi bahkan menghilang dari masyarakat.
Dampak Penggunaan Boraks dan Formalin Pada Makanan
Melalui hasil
angket yang telah kami sebarkan sebelumnya, didapat hasil bahwa jumlah
responden yang mengerti akan dampak angket hamper sama dengan responden yang
tidak begitu tahu tentang dampak boraks dan formalin pada makanan. Adapun
jumlah responden yang tahu dampak boraks dan formalin pada makanan adalah 18
orang dan yang tidak begitu tahu sebanyak 20 orang sedangkan yang sama sekali tidak
tahu ada 2 orang. Jika dituangkan dalam presentasi adalah sebagai berikut :
1. Jawaban A : 45%
2. Jawaban B : 5%
3. Jawaban C :50%
Dari hasil tersebut dapat ditarik
kesimpulan bahwa sebagian besar responden masih rancu atau bingung tentang apa
dampak boraks dan formalin bagi tubuh tersebut.
Lalu apa sebenarnya dampak boraks
dan formalin dalam makanan bila dikonsumsi tubuh kita?
5
a. Formalin
Formalin tidak
boleh digunakan sebagai bahan pengawet untuk pangan. Akibatnya jika digunakan
pada pangan dan dikonsumsi oleh manusia akan menyebabkan beberapa gejala
diantaranya adalah tenggorokan terasa panas dan kanker yang pada akhirnya akan
mempengaruhi organ tubuh lainnya,serta gejala lainnya.
Pengaruh Formalin Terhadap
Kesehatan :
• Jika terhirup
Rasa terbakar pada hidung dan
tenggorokan , sukar bernafas, nafas pendek, sakit kepala, kanker paru-paru.
• Jika terkena kulit
Kemerahan, gatal, kulit terbakar
• Jika terkena mata
Kemerahan, gatal, mata berair,
kerusakan mata, pandangan kabur, kebutaan
• Jika tertelan
Mual, muntah, perut perih, diare,
sakit kepala, pusing, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan saraf, kulit
membiru, hilangnya pandangan,
kejang, koma dan kematian.
b. Boraks
Efek toksiknya akan terasa bila
boraks dikonsumsi secara kumulatif dan penggunaannya berulang-ulang. Pengaruh
terhadap kesehatan :
• Tanda dan gejala akut :
Muntah, diare, merah dilendir,
konvulsi dan depresi SSP (Susunan Syaraf Pusat)
• Tanda dan gejala kronis
- Nafsu makan menurun
- Gangguan pencernaan
- Gangguan SSP : bingung dan
bodoh
6
- Anemia, rambut rontok dan
kanker.
Formalin dan boraks merupakan
bahan tambahan yang sangat berbahaya bagi manusia karena merupakan racun. Bila
terkonsumsi dalam konsentrasi tinggi racunnya akan mempengaruhi kerja syaraf.
Secara awam kita tidak tahu seberapa besar kadar konsentrat formalin dan boraks
yang dianggap membahayakan. Oleh karena ada baiknya kita hindari makanan yang
mengandung formalin dan boraks. Jauhkan anak-anak dari makanan yang mengandung
boraks dan formalin. Formalin dan boraks tidak boleh digunakan dalam makanan.
Makanan yang Biasanya Mengandung Formalin atau Boraks
Berdasarkan
hasil penelitian melalui angket yang telah kami sebarkan, jumlah responden yang
menganggap bahwa tahu dan bakso adalah makanan yang paling sering diberi
formalin sebanyak 33 orang, sedangkan yang memilih ikan sebanyak 6 orang, dan 1
orang memilih kerupuk. Sedangkan menurut makanan-makanan yang biasa mengandung
boraks dan formalin yang biasanya mereka konsumsi, jumlah responden yang
memilih tahu dan bakso sebanyak 28 orang, 10 orang memilih ikan dan 2 orang
memilih kerupuk.
Data ini
menunjukkan bahwa kebanyakan siswa SMA Kanisius beranggapan bahwa tahu dan
bakso merupakan makanan yang biasanya diberi formalin atau boraks. Tahu dan
bakso memang cukup dikenal sering diberi formalin maupun boraks, namun bukan
mereka makanan yang paling sering diberi formalin maupun boraks. Berdasarkan
penelitian Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia tahun 2005, penggunaan
boraks formalin pada ikan dan hasil laut menempati peringkat teratas. Yakni, 66
persen dari total 786 sampel. Sementara mi basah menempati posisi kedua dengan
57 persen. Tahu dan bakso berada di urutan berikutnya yakni 16 persen dan 15
persen.
Dan dari
pertanyaan nomor tiga pada angket ternyata responden banyak menjawab bahwa
mereka paling sering mengkonsumsi tahu dan bakso. Padahal, menurut kebanyakan
dari mereka tahu dan bakso adalah makanan yang biasanya mengandung boraks atau
formalin. Mengapa mereka masih tetap sering mengonsumsinya meskipun menganggap
bahwa tahu dan boraks yang paling sering mengandung formalin dan boraks?
Mungkin hal ini disebabkan karena siswa SMA Kanisius percaya bahwa para
pedagang di Kanisius pasti tidak memberikan formalin maupun boraks pada
dagangannya, maka mereka tidak takut untuk mengonsumsinya.
Namun tetap
saja, boraks dan formalin sangatlah berbahaya bila termakan. Walaupun
berdasarkan hasil penelitian Badan Pengawasan Obat dan Makanan Indonesia tahun
2005 penggunaan boraks dan formalin paling banyak adalah pada ikan dan hasil
laut, namun jumlah 16 persen dan 15 persen tetap merupakan jumlah yang besar.
Kita harus berhati-hati dalam memilih makanan yang akan kita makan, terutama
makanan-makanan yang sedang marak diberi boraks maupun formalin.
Oleh karena itu, di bawah ini
kami paparkan mengenai ciri-ciri dari beberapa makanan yang diberi
7
boraks maupun formalin:
a. Mi basah
Penggunaan
formalin pada mi basah akan menyebabkan mi tidak rusak sampai dua hari pada
suhu kamar ( 25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu
lemari es ( 10 derajat Celsius). Baunya agak menyengat, bau formalin. Tidak
lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal. Penggunaan boraks pada
pembuatan mi akan menghasilkan tekstur yang lebih kenyal.
B. Tahu
Tahu merupakan
makanan yang banyak digemari masyarakat, karena rasa dan kandungan gizinya yang
tinggi. Namun dibalik kelezatannya kita perlu waspada karena bisa saja tahu
tersebut mengandung bahan berbahaya. Perhatikan secara cermat apabila menemukan
tahu yang tidak mudah hancur atau lebih keras dan kenyal dari tahu biasa,
kemungkinan besar tahu tersebut mengandung bahan berbahaya, bisa formalin
maupun boraks. Selain itu, tahu yang diberi formalin tidak akan rusak sampai
tiga hari pada suhu kamar (25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari
pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius). Tahu juga akan terlampau keras,
namun tidak padat. Bau agak mengengat, bau formalin.
C. Bakso
Bakso tidak
rusak sampai lima hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius). Teksturnya juga
sangat kenyal.
D. Ikan segar
Ikan segar
yang diberi formalin tekstur tubuhnya akan menjadi kaku dan sulit dipotong. Ia
tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius). Warna
insang merah tua dan tidak cemerlang, bukan merah segar dan warna daging ikan
putih bersih.
E. Ikan asin
Ikan asin yang
mengandung formalin akan terasa kaku dan keras, bagian luar kering tetapi
bagian dalam agak basah karena daging bagian dalam masih mengandung air. Karena
masih mengandung air, ikan akan menjadi lebih berat daripada ikan asin yang
tidak mengandung formalin. Tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu
kamar ( 25 derajat Celsius). Tubuh ikan bersih, cerah.
Peran pemerintah dalam memberantas boraks dan formalin di Indonesia
Walaupun
penyebaran boraks dan formalin di Indonesia sudah luas sekali dan sudah menjadi
umum, pemerintah masih tidak mengambil langkah yang tegas dalam menangani hal
ini.
8
Buktinya bisa
didapat, bahwa ternyata penggunaan formalin dan boraks sebagai bahan pengawet
makanan masih
merajalela.
Sebenarnya,
pemerintah sudah berusaha mengambil tindakan, yaitu dengan melalui Badan
Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Beberapa langkah sudah diambil oleh BPOM,
seperti : melarang panganan permen merek white rabbit creamy, kiamboy, classic
cream, black currant, dan manisan plum; mengeluarkan permenkes no. 722/1998
tentang bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam pangan; dan melakukan
sosialisasi penggunaan bahan tambahan makanan yang diizinkan dalam proses
produksi makanan & minuman sesuai UU No. 23/1992 untuk aspek keamanan
pangan, & UU No. 71/1996. Tetapi upaya yang dilakukan Badan POM tersebut,
hanya dianggap gertakan oleh para pedagang, karena Badan POM hanya mengeluarkan
undang-undang dan aturan. Tetapi Badan POM tidak melakukan tindakan tegas
seperti memberi sanksi tegas bagi pedagang yang masih menggunakan boraks dan
formalin, bahkan badan ini masih kurang gencar dalam melakukan razia.
Dari data
angket yang kami sebarkan ke beberapa responden, terdapat pertanyaan : “Menurut
anda apakah peran pemerintah sudah ada dalam pemberantasan formalin? “ Dan dari
pertanyaan itu, sebanyak 4 orang menjawab upaya pemerintah sudah banyak,
sebanyak 17 orang menjawab upaya pemerintah sudah lumayan, dan terakhir 19
orang menjawab upaya pemerintah tidak ada sama sekali.
Dari hasil
angket diatas, dapat disimpulkan bahwa upaya pemerintah masih kurang, karena
lebih banyak orang yang beranggapan bahwa upaya pemerintah masih sangat kurang.
Ini mungkin disebabkan karena memang pemerintah kurang serius / tegas dalam menangani
masalah ini, padahal ini adalah masalah yang serius, karena dapat membahayakan
kesehatan manusia. Pemerintah seharusnya lebih gencar dalam menangani masalah
ini.
9
BAB III
Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada bab IV
dapat disimpulkan bahwa:
a. Sebagian besar dari kita telah
mengetahui tentang boraks dan formalin secara pasti, tetapi ada juga sebagian
kecil lainnya yang belum begitu mengetahui apa itu boraks dan formalin.
b. Masih ada sebagian dari kita
yang belum mengetahui secara pasti dampak penggunaan boraks dan formalin pada
produk makanan, walaupun sebagian ada yang mengetahui secara pasti.
c. Menurut responden tahu dan
bakso adalah makanan yang paling sering menjadi sasaran penggunaan boraks dan
formalin. Tetapi menurut penelitian BPOM pada tahun 2005, ikan adalah bahan
makanan yang paling sering menjadi sasaran boraks dan formalin.
d. Pemerintah masih sangat kurang
dan tidak tegas dalam mengatasi masalah penggunaan boraks dan formalin,
sehingga masih banyak kasus mengenai hal ini terjadi.
Saran
Berdasarkan kesimpulan dan
keseluruhan makalah ini kami ingin memberikan beberapa saran sebagai berikut:
Ø Berikan penyuluhan lebih lanjut
kepada masyarakat mengenai boraks dan formalin, pengertian, fungsinya, serta
dampaknya apabila tidak digunakan sesuai fungsinya.
Ø Pengawasan yang lebih ketat
oleh pemerintah dan pengambilan tindakan tegas, seperti mengirimkan
pengawas-pengawas pemerintah ke daerah-daerah tertentu dan membuat
undang-undang mengenai boraks dan formalin.
Ø Masyarakat harus lebih jeli
dalam memilih makanan dan tidak membelinya bila sepertinya mengandung bahan
formalin maupun boraks.
Ø Kesadaran dari masyarakat untuk
membantu pemberantasan dan pencegahan penggunaan boraks dan formalin pada bahan
makanan. Seperti melaporkan kepada yang berwajib jika melihat ada orang lain
yang sengaja menggunakan boraks dan formalin pada makanan yang dijualnya, dan
juga tidak secara sembarangan menjual boraks dan formalin, tanpa mengetahui
latar belakang pembeliannya.
10
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
http://www.beritaindonesia.co.id
http://www.depkes.go.id
http://www.disnakkeswan-lampung.go.id
http://id.wikipedia.org
http://www.gizi.net (15
januari 2013)
11










